Perbandingan Sewa vs Beli Properti

Haruskah kita menyewa rumah atau membeli properti sendiri? Ini bukan hanya soal tempat tinggal, tetapi tentang masa depan keuangan, fleksibilitas hidup, rasa aman, hingga impian punya hunian sendiri yang selama ini selalu jadi simbol “dewasa finansial”. Belakangan ini, isu tentang perbandingan sewa vs beli properti kembali mengemuka dalam berbagai laporan dan pendapat ahli karena perubahan kondisi ekonomi global dan lokal membuat pilihan ini kian rumit dan memicu debat di mana-mana.

Kita akan mulai dari hal yang sangat nyata: tren permintaan masyarakat terhadap sewa rumah sedang mengalami lonjakan cukup signifikan. Data terbaru yang dirilis oleh platform properti besar menunjukkan bahwa permintaan rumah sewa melonjak sampai lebih dari 65 persen sepanjang paruh pertama tahun 2025 dibanding periode sebelumnya. Di sisi lain, minat pembelian rumah justru tumbuh jauh lebih tipis. Ini menandakan bahwa semakin banyak orang memilih opsi sewa daripada membeli rumah secara langsung.

Yang membuat angka itu menarik adalah faktanya bukan sekadar soal angka mutlak, tetapi juga alasan di baliknya yang mencerminkan situasi ekonomi dan gaya hidup generasi sekarang. Banyak kalangan, khususnya generasi muda dan pekerja urban, merasa bahwa menyewa memberikan fleksibilitas yang lebih dibanding membeli, terutama di tengah ketidakpastian pekerjaan dan mobilitas yang tinggi. Orang yang masih sering berpindah kota karena pekerjaan, misalnya, merasa bahwa terikat KPR selama puluhan tahun bukan lagi hal yang ideal. Bagi mereka, sewa membuat hidup terasa lebih ringan dan tidak perlu memikirkan segala biaya tak terduga seperti perbaikan rumah atau pajak properti.

Tapi, di sisi lain, tentu bukan berarti tren sewa ini berlaku untuk semua orang di dunia. Di beberapa negara maju seperti Inggris, sebuah laporan baru saja menunjukkan bahwa permintaan sewa properti justru menurun karena beberapa faktor: belanja upah yang meningkat lebih cepat dari harga rumah, suku bunga pinjaman yang menurun, dan pelonggaran aturan kredit sehingga membuat kepemilikan rumah jadi lebih mudah dicapai bagi pembeli pertama. Ini menunjukkan bahwa keputusan antara menyewa atau membeli sangat dipengaruhi oleh kondisi ekonomi dan kebijakan setempat, bukan sekadar preferensi pribadi.

Lantas, apa yang sebenarnya menjadi poin utama dalam perbandingan sewa vs beli properti? Mari kita kupas pelan-pelan — bukan dalam bahasa statistik yang bikin kepala pusing, tetapi dalam cerita yang bisa Anda pahami seperti sedang ngobrol dengan teman lama.

Pertama, biaya awal yang harus Anda keluarkan untuk membeli rumah jauh lebih besar dibanding menyewa. Membeli rumah biasanya memerlukan uang muka yang tidak sedikit — bisa mencapai puluhan hingga ratusan juta rupiah tergantung lokasi dan harga rumah. Sementara itu, menyewa hanya memerlukan deposit dan cicilan sewa bulanan yang jauh lebih terjangkau. Misalnya, jika harga rumah yang ingin Anda beli adalah setengah miliar rupiah, uang muka bisa mencapai Rp 100 juta atau lebih. Bandingkan dengan menyewa rumah yang mungkin hanya memerlukan Rp 6 juta sebagai deposit dan Rp 3 hingga 5 juta sewa per bulan. Ini membuat menyewa jadi pilihan lebih realistis bagi mereka yang belum mempunyai tabungan besar.

Itu baru biaya awal. Kalau kita bicara dalam periode jangka panjang, cerita ini jadi sedikit lebih rumit. Ada hitungan yang bisa Anda temukan di berbagai kajian perencana keuangan: jika dalam rentang 10 sampai 20 tahun Anda terus menyewa, total biaya yang Anda keluarkan bisa saja hampir setara atau bahkan lebih tinggi daripada membeli rumah, tergantung kenaikan biaya sewa tahunan. Tapi di sisi lain, jika Anda membeli rumah dan harganya naik seiring waktu, Anda juga berpotensi mendapat keuntungan dari apresiasi harga rumah itu sendiri. Sayangnya, keuntungan ini tidak selalu pasti karena pasar properti juga bisa stagnan atau bahkan turun nilainya tergantung kondisi ekonomi umum.

Namun, biaya bukan satu-satunya pertimbangan. Banyak orang yang memilih sewa karena ingin mempertahankan fleksibilitas hidup. Di dunia kerja modern saat ini, berpindah kota demi karier atau kesempatan baru bukan hal langka. Menyewa rumah memberi keleluasaan bagi individu atau keluarga untuk bergerak tanpa harus memikirkan proses jual beli properti yang biasanya memakan waktu dan biaya ekstra. Dan jangan lupakan juga biaya tak terlihat seperti renovasi, perbaikan, hingga pajak yang harus ditanggung pemilik rumah — hal-hal yang tidak perlu Anda pikirkan jika hanya menyewa.

Di sisi lain, membeli properti tetap memiliki daya tarik kuat, terutama bagi mereka yang memandang rumah sebagai aset jangka panjang. Kepemilikan rumah berarti setiap cicilan yang Anda bayar tidak hilang begitu saja — itu menjadi bagian dari kepemilikan Anda sendiri, atau yang biasa disebut equity. Ketika suatu hari Anda memutuskan untuk menjual rumah tersebut, potensi keuntungan dari kenaikan harga juga bisa menjadi modal finansial yang signifikan. Selain itu, memiliki rumah sendiri juga memberikan rasa aman, stabilitas keluarga, dan kebebasan kreatif dalam mengatur ruang tanpa perlu persetujuan pemilik lain.

Banyak juga ahli mengatakan bahwa pilihan terbaik antara sewa dan beli sangat bergantung pada tujuan finansial Anda sendiri. Jika tujuan Anda adalah memiliki aset jangka panjang dan Anda yakin akan tinggal di satu tempat selama bertahun-tahun, membeli mungkin masuk akal secara finansial. Tapi jika tujuan Anda adalah fleksibilitas dan minim tekanan finansial jangka pendek, menyewa bisa jadi lebih cocok. Keputusan ini juga perlu mempertimbangkan profil risiko masing-masing orang — apakah Anda siap menghadapi fluktuasi pasar properti jika memilih membeli?

Tidak heran kemudian jika debat tentang perbandingan sewa vs beli properti sering muncul di forum, media sosial, bahkan di percakapan sehari-hari antara teman atau keluarga. Ada yang bilang bahwa membeli adalah langkah penting menuju kemandirian finansial — karena pada akhirnya Anda punya sesuatu yang bisa diwariskan ke generasi berikutnya. Ada pula yang berpendapat bahwa menyewa menghindarkan Anda dari beban utang jangka panjang dan memberi ruang untuk mengalokasikan dana lebih banyak ke investasi lain seperti reksa dana atau saham yang mungkin memberikan return lebih cepat.

Di beberapa kota besar dunia saat ini, data menunjukkan tren yang mengejutkan: biaya menyewa rumah bisa jauh lebih murah daripada membayar cicilan kepemilikan, bahkan ketika inflasi dan biaya hidup meningkat. Di negara seperti Amerika Serikat, misalnya, rata-rata biaya bulanan menyewa rumah tercatat secara konsisten lebih rendah dibanding cicilan rumah berutang, terutama di kota-kota besar. Ini semakin membuat banyak warga mempertimbangkan ulang anggapan bahwa membeli itu pasti lebih baik daripada menyewa.

Kalau kita mundur satu langkah lagi dan melihat kondisi pasar di Indonesia sendiri, tren ini juga tidak jauh berbeda. Generasi muda yang baru masuk ke pasar properti cenderung lebih berhati-hari dalam mengambil keputusan besar seperti membeli rumah. Banyak dari mereka merasa bahwa fokus hidup saat ini adalah meningkatkan pengalaman kerja, mobilitas, dan menabung sambil menunggu waktu yang tepat untuk membeli hunian sendiri. Ini terlihat jelas dari angka permintaan rumah sewa yang melonjak signifikan dalam beberapa tahun terakhir.

Jadi, apa kesimpulannya setelah semua kisah dan angka itu? Tidak ada jawaban tunggal yang cocok untuk semua orang. Perbandingan sewa vs beli properti pada akhirnya kembali pada tujuan hidup dan kondisi finansial masing-masing individu. Jika tujuan utama Anda adalah investasi jangka panjang dan Anda memiliki kemampuan finansial untuk melakukannya, membeli properti bisa jadi langkah bijak. Namun jika fleksibilitas, rendahnya beban awal, serta kemungkinan untuk menabung atau berinvestasi di instrumen lain lebih penting bagi Anda, maka menyewa adalah pilihan yang sama sekali tidak salah. Yang terpenting adalah memahami konsekuensi dari masing-masing opsi dan memilih dengan pertimbangan matang, bukan sekadar mengikuti tren. 

Tags: perbandingan sewa vs beli properti, rumah sewa, beli rumah, pasar properti, keuangan pribadi